Thursday, November 14, 2013

TREN POSITIF BANK SYARIAH BERLANJUT


Perbankan syriah menunjukan tren positif di tengah perlambatan ekonomi Indonesia. Jika dirata-rata, sejak 2000 hingga 2012, bank syariah tumbuh sekitar 50 persen pertahun. Hingga agustus 2013 aset perbankan syariah nasional mencapai Rp 223 triliun. Perlambatan ekonnomi meyebabkan suku bunga dana pihak ketiga (DPK) tinggi sehingga mengakibatkan biaya dana meningkat dan margin pembiayaan juga meningkat dan risiko gagal bayarpun meningkat.

Di tengah ancaman tersebut, perbankan syariah tetap tumbuh dalam kehati-hatian tinggi. Pembiayaan tumbuh pada segmen yang selama ini terbukti memiliki kinerja baik, seperti pembiayaan mikro produktif, konsumtif yang di dukung pendapatan tetap, dan sector usaha yang industrinya masih aman.

Dalam hal pendanaan bank yariah lebih kreatif mencari sumber dana murah. Mrningkatkan pelayanan untuk mencari diferensiasi dalam industry. Konsolidasi dengan strategi baik membuat biaya operasional dapat ditekan maksimal. Perbankan syariah juga meningkatkan aktivitas penagihan pembiayaan, lebih terjadwal, dan menggunakan cara-cara inovatif.

Saat ini, perbankan syaraiah Tanah Air belum mampu menembus pangsa pasar lima persen. Meski begitu, berharap pangsa pasar perbankan syariah mampu menembus lima persen. Indinesia perpotensi besar pemain keungan syariah global. Potensi tersebut, di antaranya jumlah besar penduduk Muslim sehingga bisa menjadi potensi nasabah industry keungan syariah. Ditambah lagi prospek ekonomi cerah tercermin dari pertumbuhan ekonomi relative ditopang fundamental ekonomi solid.

Selain itu, peningkatan sovereign credit rating Indonesia menjadi Investment grade akan meningkatkan minat investor untuk berinvestasi untuk berinvestasi di keungan domestic, termasuk industry keungan syariah. “Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah yang dapat menjadikan under laying transaksi industry keungan syariah.

Sumber : Qommarriah rostanti harian Republika kamis 7 nov 2013

0 komentar: