Perbankan
syriah menunjukan tren positif di tengah perlambatan ekonomi Indonesia. Jika
dirata-rata, sejak 2000 hingga 2012, bank syariah tumbuh sekitar 50 persen
pertahun. Hingga agustus 2013 aset perbankan syariah nasional mencapai Rp 223
triliun. Perlambatan ekonnomi meyebabkan suku bunga dana pihak ketiga (DPK)
tinggi sehingga mengakibatkan biaya dana meningkat dan margin pembiayaan juga
meningkat dan risiko gagal bayarpun meningkat.
Di
tengah ancaman tersebut, perbankan syariah tetap tumbuh dalam kehati-hatian
tinggi. Pembiayaan tumbuh pada segmen yang selama ini terbukti memiliki kinerja
baik, seperti pembiayaan mikro produktif, konsumtif yang di dukung pendapatan
tetap, dan sector usaha yang industrinya masih aman.
Dalam
hal pendanaan bank yariah lebih kreatif mencari sumber dana murah. Mrningkatkan
pelayanan untuk mencari diferensiasi dalam industry. Konsolidasi dengan
strategi baik membuat biaya operasional dapat ditekan maksimal. Perbankan
syariah juga meningkatkan aktivitas penagihan pembiayaan, lebih terjadwal, dan
menggunakan cara-cara inovatif.
Saat
ini, perbankan syaraiah Tanah Air belum mampu menembus pangsa pasar lima
persen. Meski begitu, berharap pangsa pasar perbankan syariah mampu menembus
lima persen. Indinesia perpotensi besar pemain keungan syariah global. Potensi
tersebut, di antaranya jumlah besar penduduk Muslim sehingga bisa menjadi
potensi nasabah industry keungan syariah. Ditambah lagi prospek ekonomi cerah
tercermin dari pertumbuhan ekonomi relative ditopang fundamental ekonomi solid.
Selain
itu, peningkatan sovereign credit rating
Indonesia menjadi Investment grade
akan meningkatkan minat investor untuk berinvestasi untuk berinvestasi di
keungan domestic, termasuk industry keungan syariah. “Indonesia memiliki sumber
daya alam melimpah yang dapat menjadikan under
laying transaksi industry keungan syariah.
Sumber
: Qommarriah rostanti harian Republika kamis 7 nov 2013








0 komentar:
Post a Comment