Syukurnya
seorang Muslim harusnya seperti syukurnya Umar bin Khatab. Umar bin Khatab
mengajarkan kita bahwa syukur itu tidak hanya mengalir saat nikmat bahagia
membanjiri. Namun, syukur itu akan semakin terasa saat dilantunkan ketika
musibah menyapa. Mari kita simak bagaimana Umar bin Khatab bersyukur ketika
musibah setia menghampiri dengan berkata , “Aku selalu mengucapkan hamdalah
empat kali ketika musibah datang menimpaku, yaiut :
·
Hamdalah pertama, karen Allah tidak
menurunkan musibah yang lebih berat dan lebih dahsyat daripada musibah yang
hadir ketika itu, padahal, jika mau Allah bisa menurunkan musibah yang lebih
berat dari itu.
·
Hamdalah kedua, karena Allah tidak menimpakan
musibah ini pada agamaku. Karena bagiku agama jauh lebih berharga dari apa pun
di dunia ini.
·
Hamdalah ketiga, karena Allah masih
memelihara kesabaran di dadaku, dan kesabaran balasannya adalah surga. Sungguh,
aku lebih merindukan surga daripada dunia dan seisinya.
·
Hamdalah keempat, karena Allah masih
menolongku untuk mendapatkan kembali nikmat yang hilang. Karena Allah telah
berjanji akan mengganti setiap apa yang hilang dengan rahmat dan hidayahnya.
Subhanallah
betapa luar biasanya rasa syukur Umar bin Khattab. Mata batinnya sangat jernih
dan tajam, sehingga mampu meneropong jauh ke depan keadilan Allah yang belum
tampak. Ia begitu optimis bahwa musibah ini akan diganti dengan sesuatu yang
lebih besar, lebih indah, dan tak ternilai harganya, yaitu surga. Umar bin
Khattab mampu menafsirkan musibah dan ujian yang menimpanya sebagai sebuah
rahmat dan kasih sayang Allah yang harus disyukuri kehadirannya.
Bersyukur
ketika dikaruniai nikmat kesenangan itu biasa. Namun, bersyukur ketika musibah
melanda itu sungguh luar biasa. Itulah makna syukur yang sesungguhnya. Itulah
rasa syukur yang sejati, rasa syukur yang sudah menjadi karakter dan akhlak
seorang Muslim.












